Tampilkan postingan dengan label Religi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Religi. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 Maret 2010

Keadilan Allah Dalam Memberikan Rezki

|0 komentar
Pada umumnya kita berpikir bhw Allah SWT itu membagikan rezeki kpd manusian sama rata, "itulah yang adil", pendapat ini dilontarkan oleh orang2 komunis. Padahal tdk seperti itu. Setidaknya ada 4 ayat di dlm al-Quran yang menjelaskan tentang pembagian rezeki :
1. REZEKI TINGKAT PERTAMA (YANG DIJAMIN OLEH ALLAH
"Tidak suatu binatangpun (termasuk manusia) yang bergerak di atas bumi ini yang tidak dijamin oleh Allah rezekinya."(QS. Hud/11: 6)
Artinya Allah akan memberikan makan, minum untuk makhluk hidup di dunia ini. Ini adalah rezeki dasar yg terendah, spt kita lihat orang2 yg tinggal di hutan, mrk bisa tetap hidup tanpa ilmu2 dari Al Quran. Mereka hidup sesuai dgn fitrah manusia yang diberikan oleh Allah. Sama dgn binatang2 dan makhluk Allah lainnya. Mereka tahu mencari makan,tahu berkembang biak dan tahu melahirkan anak2nya dan tahu menjaga diri dari mangsanya.vItulah FITRAH DASAR dari Allah.

2. REZEKI TINGKAT KEDUA
"Tidaklah manusia mendapat apa-apa, kecuali apa yang telah dikerjakannya" (QS. 53: 39)

Allah akan memberikan rezeki sesuai dengan apa yang dikerjakannya. Jika ia bekerja dua jam, dapatlah hasil yang dua jam. Jika kerja lebih lama, lebih rajin, lebih berilmu, lebih sungguh2, ia akan mendapat lebih banyak.

Dgn kata lain, jika seseorang ingin mendapatkan rezeki lebih banyak, ia haruslah belajar lebih banyak dan sungguh2 dlm bekerja. Tdk pandang apakah org itu beriman atau kafir. Itulah keadilan Allah terhadap makhluk-Nya.

3. REZEKI TINGKAT KETIGA
“... Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (QS. Ibrahim/14: 7)

Inilah rezeki yang disayang Allah. Orang2 yg pandai bersyukur akan dapat merasakan kasih sayang Allah. Sebagai contoh: Orang yg pandai mensyukuri (berterima kasih) atas bantuan org lain, akan mudah mendapat bantuan lainnya (sebagai tambahan), tapi jika ia tidak pandai mensyukuri, atau tidak pandai berterimakasih akan bantuan yang sudah diterimanya, maka ia tidak akan dapat pertolongan lagi. Hidupnya akan susah lagi. Bukan Allah yang menghendaki, tapi ia sendiri yang tidak pandai bersyukur.

Orang yang pandai bersyukur akan mendapat rezeki yang lebih banyak. Janji Allah tidak meleset sedikit pun! Orang yang pandai bersyukurlah yang dapat hidup bahagia, sejahtera dan tentram. Usahanya akan sangat sukses, karena Allah tambahkan selalu.

“.... Dan barang siapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur kepada dirinya sendiri..." (QS. Luqman/31: 12)

4. REZEKI KE EMPAT (UNTUK ORANG2 BERIMAN DAN BERTAQWA)
".... Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS. Ath-Thalaq/65:2-3)

Peringkat rezeki yang ke empat ini adalah rezeki yang istimewa, tidak semua orang bisa meraihnya. Orang istimewa ini (muttaqun) adalah orang yang benar2 dicintai dan dipercaya oleh Allah untuk memakmurkan atau mengatur kekayaan Allah di bumi ini.

Banyak pakar mengatakan bhw rezeki yg tidak terbatas itu didapatkan dgn berwira-usaha, suatu bentuk usaha yg dijalankan oleh Rasulullah SAW dan para sahabat.

Sekiranya dalam suatu negeri terdapat banyak orang bertaqwa dan orang2 yang sukses berwira usaha, maka negeri itu akan makmur, lapangan kerja terbuka. Inilah janji Allah di dalam al-Qur'an.

"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya" (QS. al-A'raf/7: 96)

Rezeki yang ke empat ini amat istimewa, tidak semua orang yang bisa menerimanya, kecuali orang2 yang betul2 bertaqwa kepada Allah SWT. Orang bertaqwa ini, di dunia mereka mendapat kemudahan2 atau sukses dari Allah, dan di akirat mereka mendapatkan syurga pula.

"Sesungguhnya orang yang bertaqwa itu berada dalam surga (taman-taman) dan (di dekat) mata air mata air yang mengalir. (Dan dikatakan kepada mereka): Masuklah ke dalamnya dengan sejahtera lagi aman". (QS. al-Hijr/15: 45)

Dan, bagaimanapun:
“Tidak setiap org yg Kuberi nikmat dan Kulapangkan rezekinya berarti dia Kumuliakan, TIDAK! Dan tdk setiap org yg Kumiskinkan berarti dia Kuhinakan, TIDAK! Justru yg satu Kuuji dgn kesenangan, dan yg lain Kumuliakan dgn cobaan”. (Tafsir QS. Al-Fajr/89: 15-16)

Wallahu a’lam…

By: Azharul Fuad.

Selasa, 26 Januari 2010

Takut kepada Allah

|0 komentar
Sesungguhnya seorang mukmin yang bertaqwa itu sangatlah takut kepada Allah SWT, karena mereka sangat yakin bahwa segala sesuatunya menyangkut dirinya hanyalah bergantung kepada kekuasaan-Nya sebagaimana disebutkan dalam Surah An-Nahl (QS. 16:50):

“Mereka takut kepada Rabb mereka yang berkuasa atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka), (QS. 16:50)".

Karena ketakutan inilah mereka sangat patuh terhadap segala sesuatu yang diperintahkan oleh Allah SWT dan menjauhi segala yang dilarang-Nya. Di dalam melakukan segala aktifitasnya mereka sangatlah hati-hati, karena takut padaNya. Jangankan terjerumus ke dalam maksiat, menyerempet saja mereka sangat amatlah takut akan murkanya Allah SWT. Yang mereka cari hanyalah ridho dari-Nya, seperti yang dinyatakan Al-Qur’an:“Allah mengetahui segala sesuatu yang di hadapan mereka (malaikat) dan yang di belakang mereka, dan mereka tidak memberi syafaat melainkan kepada orang-orang yang diridhai Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya. (QS. 21:28)

Imam Al-Ghazali menggambarkan bahwa orang yang taqwa dan takut kepada Allah itu selalu berusaha untuk menekan segala kecederungan buruk dari dirinya dan membangkitkan amal-amal baik yang diperintahkan Allah SWT dengan cara mengendalikan segala gerakan hati dan jasadnya. Beliau menerangkan ciri-ciri orang yang takut kepada Allah SWT, yaitu:

Menjaga hati dari sikap yang tercela, iri, dengki, hasad dsb dan menggantikannya dengan gerak hati yang baik yakni berbaik sangka, bersahabat, kasih, sayang dst.

Menjaga lisan dari perkataan yang tidak baik, kotor dan bahkan yang kurang bermanfa’at dengan menggantikannya dengan perkataan yang bermanfa’at, khususnya melafazkan kata-kata dzikir terhadap Allah SWT.

Menjaga perut dari memakan makanan yang haram, baik yang haram karena dzatnya maupun yang haram karena cara mendapatkannya. Dan sudah tentu hanya makanan yang halallah yang dapat memberikan keberkahan dalam perkembangan jasad maupun rohani kita.
Menjaga penglihatan dari hal yang dilarang Allah SWT, seperti melihat aurat orang lain yang bukan muhrimnya dsb.

  • Menjaga tangan dari berbuat yang maksiat.
  • Menjaga kaki dari melangkah kepada yang tidak baik.
  • Menjaga telinga dari mendengar hal-hal yang tidak bermanfa’at.
    Serta menjaga kemaluannya dari berbuat zina.


Beruntunglah orang-orang yang secara konsisten (istiqomah) menjaga jasad dan rohaninya dari larangan Allah SWT dikarenakan takut kepadaNya, baik ketika bersama-sama orang lain maupun dalam keadaan sendiri. Karena mereka yakin bahwasanya mereka bukan hanya “diintip” tetapi bahkan “ditonton” oleh Allah SWT. Dan puncak segala kenikmatan yang dijanjikan Allah SWT terhadap hambaNya yang takut padaNya dan hanya mengharapkan ridho-Nya ini, dipaparkan Allah SWT dalam Al-Qur’an:
“Balasan mereka di sisi Rabb mereka ialah surga 'Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya.Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Rabbnya.” (QS. 98:8)

Semoga kita digolongkan kepada hambaNya yang bertakwa sebagaiman yang dipaparkan diatas.
By : Kultum
Judul: TAKUT KEPADA ALLAH

Senin, 04 Januari 2010

Hikmah Dibalik Pergantian Tahun

|0 komentar
Saudara-saudara, kita sebenarnya tidak perlu memperingati atau merayakan tahun baru. Yang perlu kita lakukan adalah menumbuhkan tekad atau komitmen untuk punya semangat baru. Kita harus rayakan semangat baru itu pada tahun baru ini. Ya, semangat untuk punya rasa mandiri, tidak minder sebagai bangsa yang besar dengan potensi alam yang besar. Jangan kita rendah diri. Kita harus punya keberanian untuk percaya diri di depan bangsa-bangsa di dunia. Jangan sampai kita kalah dengan negara tetangga kita, yang kecil bahkan kebutuhan airnya saja itu harus ngimpor tetapi punya percaya diri yang besar. Kita harus bersatu untuk sukses hidup.

Hari demi hari berlalu, demikian juga minggu, bulan, dan tahun. Tak terasa kita sudah berada di tahun baru 2010 M, tahun dimana harus meningkatnya seluruh kegiatan, perbuatan, dan amal kita kepada yang lebih baik dari yang sebelumnya. Kita pun selalu mendengar dalam sebuah hadist yang dikatakan:

“Barangsiapa yang harinya lebih baik dari yang kemarin, maka dia beruntung, barangsiapa yang harinya sama dengan hari yang kemarin maka ia merugi, barangsiapa yang harinya lebih jelek dari yang kemarin, maka dia celaka.”

Kita, baik secara individu maupun masyarakat, dalam hari-hari yang telah berlalu itu, senantiasa mengisi lembaran-lembaran yang setiap tahun kita tutup untuk kemudian membuka lagi dengan lembaran-lembaran baru pada tahun berikutnya. Lembaran-lembaran itu adalah sejarah hidup kita secara amat rinci. Itulah kelak yang akan disodorkan kepada kita untuk dibaca dan dipertanggungjawabkan dihadapan Allah SWT pada hari kiamat nanti.

“Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu.” (Al-Israa’: 14),

kemudian Allah SWT pun berfirman dalam surat Al-Jaatsiyah ayat 28:

“Dan (pada hari itu) kamu lihat tiap-tiap umat berlutut, tiap-tiap umat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amalnya. Pada hari itu kamu diberi balasan terhadap apa yang Telah kamu kerjakan.”

Oleh karena itu sebaiknya kita mengetahui bahwa keimanan terhadap penghisaban pada hari kiamat mewajibkan disegerakannya koreksi diri dan persiapan diri. Kita pun seringkali mendengar, “Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab.”

Allah SWT juga berfirman dalam surat Al-Anbiyaa’ ayat 47:

“Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawipun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai Pembuat perhitungan.”

Dan barang siapa menghisab dirinya termasuk waktu-waktu yang dipergunakan dan apa yang ia pikirkan, niscaya akan ringan kesedihan yang harus ditanggung di hari kiamat nanti. Tetapi barangsiapa tidak menghisab dirinya, maka kekal-lah kesedihannya dan menjadi banyak pemberhentiannya di hari kiamat. Dalam hal ini Allah SWT berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (Ali ‘Imran: 200)

Setelah kita mengetahui dan kita melihat segala kekurangan dalam diri kita, maka kita harus ingat selalu terhadap firman Allah SWT dalam surat Ar-Ra’d ayat 11:

“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”

Begitulah bunyi sebuah ayat yang menafikan secara tegas ketentuan sejarah dan secara tegas pula sikap terdalam manusia sebagai penentu sejarah. Dari sini dapat dipahami mengapa para Nabi memulai langkah mereka dengan menanamkan kesadaran terdalam dalam jiwa ummat. Dari mana kita datang? Kemana kita akan menuju? Bagaimana alam ini terwujud dan ke arah mana ia bergerak? “Semua dari Allah dan akan kembali kepadaNya” dan “Akhir dari segala siklus adalah kembali ke permulaan,” demikian para filosof muslim merumuskan.

Nah, kalau manusia atau masyarakat mampu mengisi hari-hari yang berlalu dalam hidupnya atas dasar kesadaran diatas, maka disanalah dia akan memperoleh kebahagiaan abadi. Dengan ini semua dan dengan pergantian tahun hijriah ini mari kita merubah mulai dari diri kita sendiri, karena adalah mimpi bisa merubah apapun dengan baik tanpa diawali merubah diri sendiri, kita perbaiki diri sendiri berarti kita mulai memperbaiki segalanya. Selanjutnya mulai dari hal yang terkecil, karena tak ada prestasi besar, kecuali rangkaian prestasi kecil dan mudah. Kemudian mari kita mulai dari saat ini juga, janganlah menunda, karena belum tentu ada hari esok, keberuntungan kita adalah kebaikan yang kita laksanakan saat ini.

Pergantian tahun, hakekatnya adalah sama dengan pergantian bulan hari, siang dan malam, juga detik demi detik. Pergantian waktu substansinya adalah dari nafas yang satu ke nafas berikutnya, dan pertanyaan mendasar adalah bagaimana kita telah mengelola nafas yang telah diberikan oleh Allah swt. Pergantian tahun harusnya menyadarkan kita bhw kita semakin jauh dari dunia dan semakin dekat ke akhirat.

Apakah waktu-waktu yang telah kita lalui, lebih banyak digunakan untuk bertaqarub, bersyukur, atau bahkan sebaliknya hari-hari yang kita lalui lebih banyak untuk bermaksiat ria dengan segala pranata dunia seisinya. Seandainya saja, waktu yang telah kita lalui lebih banyak melupakan Allah, selalu tidak bersyukur atas anugerah-Nya, bahkan mempergunakan nikmat-nikmat Allah sebagai sarana untuk menentangNya, maka pantaslah jika pergantian tahun ini kita isi dengan BERTAUBAT, dan bukan dengan hal-hal yang sia-sia bahkan dgn hal-hal yang dilarang agama

Senin, 21 Desember 2009

JIHAD SEORANG IBU

|0 komentar
Tanggal 22 Desember datang kembali menghampiri kita. Pada tanggal ini di Indonesia diperingati sebagai hari Ibu. Di dalam Islam memang tidak dikenal -secara khusus- mengenai penetapan Hari Ibu, tapi begitu banyak ayat-ayat di dalam al-Qur’an dan Hadits Nabi SAW yang berkaitan dengan Ibu. Dalam sebuah hadits disebutkan:

Dari Abdullah bin Mas’ud katanya, “Aku bertanya kpd Nabi SAW tentang amal-amal yg paling utama dan dicintai Allah? Nabi SAW menjawab, “Shalat pada awal waktu, berbakti kpd kedua orang tua dan jihad di jalan Allah” (HR. Bukhari)

Dengan demikian jika ingin kebajikan, hrs didahulukan amal-amal yg paling utama diantaranya adalah Birrul Waalidain (berbakti kpd kedua orang tua).

Rasulullah SAW pun bersabda, ''Setiap jerih payah istri di rumah sama nilainya dengan jerih payah suami di medan jihad.'' (HR Bukhari dan Muslim).



Pada dasarnya, Islam telah memberikan keistimewaan kepada para istri (ibu) untuk tetap berada di rumahnya. Untuk mendapatkan surga-Nya kelak, para istri cukup berjuang di rumah tangganya dengan ikhlas. Tetesan keringat mereka di dapur dinilai sama dengan darah mujahid di medan perang.

Menjadi ibu rumah tangga kedengarannya memang sepele dan remeh, hanya berkecimpung dengan urusan rumah dari A-Z, namun siapa sangka banyak sekali kebaikan dan hikmah yang dapat diperoleh. Ibulah yang mengambil porsi terbesar dalam pembentukan pribadi sebuah generasi.

Pertumbuhan suatu generasi bangsa pertama kali berada di buaian para ibu. Di tangan ibu pula pendidikan anak ditanamkan dari usia dini, dan berkat keuletan dan ketulusan ibu jualah bermunculan generasi-generasi berkualitas dan bermanfaat bagi bangsa dan agama.

Dalam Islam, ini adalah tugas besar, namun sangat mulia dan akan dipertanggungjawabkan di akhirat. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, ''Seorang istri pemimpin di rumah suaminya dan dia bertanggung jawab atas kepemimpinannya.'' (HR Bukhari dan Muslim).

Sayangnya, kebanyakan wanita modern saat ini tidak menyukai aktivitas rumah tangga. Mereka lebih bangga bekerja di luar rumah karena beranggapan tinggal di rumah identik dengan ketidakmandirian dan ketidakberdayaan ekonomi. Maka, jadilah peran ibu di rumah dianggap rendah, dan tidak sedikit ibu rumah tangga yang malu-malu ketika ditanya apa pekerjaannya.

Meskipun seorang wanita tidak bekerja setelah lulus sarjana, ilmunya tidak akan sia-sia, sebab ia akan menjadi ibu sekaligus pendidik bagi anak-anaknya. Kebiasaan berpikir ilmiah yang ia dapatkan dari proses belajar di bangku kuliah itulah yang akan membedakannya dalam mendidik anak. Seorang ibu memang harus cerdas dan berkualitas, sebab kewajiban mengurus anak tidak sebatas memberi makan.

Ia harus mampu merawat dan mendidik anak-anaknya dengan benar, penuh kasih sayang, kesabaran, menempanya dengan nilai dan norma agama agar sang anak mampu menghindar dari pengaruh lingkungan dan kemajuan teknologi yang merusak akal dan akhlaknya. Hal itu hanya dapat dilakukan oleh seorang ibu yang cerdas.

Sejarah mencatat bahwa peranan ibu dalam pendidikan anak sangat penting, karakter anak sangat tergantung kepada pendidikan yang diberikan oleh ibu. Bagaimana tidak? Peranan ibu dalam mendidik anak dimulai sejak anak masih berada dalam kandungan. Seorang ibu yang sholehah bertanggung jawab penuh terhadap pendidikan buah hatinya. Hal ini tidak dapat dipindahtangankan kepada orang lain. Itulah sebabnya dikatakan rumah adalah sekolah pertama bagi anak-anak, dan gurunya adalah ibu.

Hasan Al-Bana pernah mengatakan bahwa ibulah yang membangun pertumbuan anak dan menjadi panutan yang diteladani sang bayi, ibulah yang pertama kali menandai kehidupan remaja untuk menjadi dewasa di atas jalan yang lurus. Corak ibulah yang akan mulai mewarnai anak. Karena dialah yang selalu berada di dekatnya.

Nabi Musa as, menjadi orang besar tidak lain karena dididik oleh Asiah istri Fir’aun. Asiah, walaupun berada di tengah-tengah kaum yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya, namun ia tetap berpegang teguh kepada Allah swt. Isa as, menjadi orang besar juga tidak lain karena didikan ibundanya Siti Maryam. Begitupun Rasulullah saw, menjadi orang besar tidak lepas dari peranan ibundanya Aminah.

Dalam hal memperlakukan anak, Nabi SAW bersabda:
“Hormatilah anak-anakmu dan didiklah mereka. Allah SWT memberi rahmat kepada seseorang yang membantu anaknya sehingga sang anak dapat berbakti kepadanya”. Sahabat Nabi bertanya : “Bagaimana cara membantunya ?” Nabi saw menjawab : “Menerima usahanya walaupun kecil, memaafkan kekeliruannya, tidak membebaninya dengan beban berat, dan tidak pula memakinya dengan makian yang melukai hatinya”.

Begitupun kita sebagai anak, Allah dan Rasul-Nya mewajibkan kita untuk berbakti kepada orang tua. Sampai kepada, seandainya, keduanya menyuruh kita untuk menyekutukan Allah, kita diperintahkan untuk tetap bergaul dgn baik dan berkata kepada keduanya dengan perkataan yang lembut.

Begitu besar jasa kedua orang tua, sehingga apapun yg kita lakukan untuk berbakti kpd keduanya tdk akan dpt membalas jasa keduanya. Di dalam hadits yg diriwayatkan oleh Imam Bukhari disebutkan bahwa ketika sahabat Abdullah bin Umar ra melihat seseorang menggendong ibunya untuk thawaf di Ka’bah dan ke mana saja ‘Si Ibu’ menginginkan, orang tersebut bertanya kpdnya: “Wahai Abdullah bin Umar, dgn peruntukanku ini apakah aku sudah membalas jasa ibuku.?” Abdullah bin Umar ra menjawab: “Belum, setetespun engkau belum dpt membalas kebaikan kedua orang tuamu”

Ketika ada seorang anak muda datang menghadap Rasulullah SAW seraya meminta izin untuk ikut andil berjihad bersama beliau, maka beliau bertanya, “Apakah engkau masih mempunyai ibu?” Orang itu menjawab, “Ya, masih”. Beliaupun kemudian bersabda:

“Bersungguh-sungguhlah dalam berbakti kepada ibumu, karena sesungguhnya surga itu berada di bawah kedua kakinya”.

SELAMAT HARI IBU, BUNDA… Semoga Allah SWT senantiasa memberikan rahmat, keberkahan dan kesehatan kepadamu… Salah satu nikmat yang paling aku syukuri di dunia ini adalah terlahir dari perutmu dan menjadi anakmu…

Wallahu a'lam bish shawab…

Jumat, 23 Oktober 2009

Wajah Marah di Langit Teluk Kabung Padang

|0 komentar
Fitra Iskandar - Okezone
sumber : www.okezone.com

Padang, Keindahan semburat lembayung di langit Teluk Kabung Kota Padang, Sumatera Barat sore hari pukul 18.30 WIB 8 Oktober 2009 lalu membuat Rinus Indra terpana.

Rinus yang bekerja sebagai boarding officer di perusahaan tanker ini, lalu mengambil kameranya dan mengabadikan pemandangan di Teluk Kabung dari atas kapal.

Setelah puas, Rinus bergegas turun dari wing bridge kapal tanker untuk menunaikan salat magrib. Rinus sendiri berada di padang karena ditugaskan sebagai boarding officer di kapal tanker yang menyuplai BBM ke Padang itu dan bertugas dari tanggal 4 sampai 9 Oktober.

Sebagai pendatang, Rinus memang merasa kagum dengan keindahan alam Padang yang dilihatnya, sehingga setelah menunaikan salat, Rinus pun tak menyia-nyiakan waktu lagi untuk memandangi hasil jepretannya.

"Satu persatu saya amati dengan sekasama foto-foto yang telah saya ambil. Sungguh luar biasa memang, Padang memiliki keindahan alam yang tiada taranya. Sungguh indah, sempat saya tersenyum sendiri karna baru sadar kenapa hampir setiap kali saya makan di warung makan nasi Padang selalu melihat lukisan pemandangan yang ditempel di dinding warung-warung. Ini kali jawabannya, biar selalu ingat kampuang halaman nyo," seloroh Rinus.

Namun sampail pada slide 30, Rinus terkejut melihat gambar yang tampak di layar laptopnya bentuk lembayung yang tampak berwujud wajah manusia dengan mimik marah. "Padahal waktu saya lihat tidak ada," kisah Rinus.

Wajah itu lengkap memiliki sepasang mata, hidung dan mulut yang menganga. Dan yang lebih mengejutkannya dia menemukan sebaris kata dalam tulisan arab.

"Pengetahuan akan bahasa arab saya memang tidak secanggih lulusan-lulusan mahasiswa Kairo-Mesir, dalam lembayung itu. Saya membaca ada tulisan Muhammad dan Allah, namun karna saya masih merasa antara percaya dan ga percaya lalu memanggil 2 orang perwira senior yang menemani saya tadi sore dalam pengambilan gambar, dan jawaban mereka pun sama dengan apa yang saya baca.Wallahu a'lam bishshawab. Saya hanya berbagi saja," kata Rinus.

"Apapun yang terbaca dan terdokumentasikan di balik rahasia kode alam tersebut,saya sangat bersyukur atas Ridhonya Allah Subhanahu wata ala," tutur Rinus.