Tampilkan postingan dengan label Religi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Religi. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 Maret 2010

Keadilan Allah Dalam Memberikan Rezki

|0 komentar
Pada umumnya kita berpikir bhw Allah SWT itu membagikan rezeki kpd manusian sama rata, "itulah yang adil", pendapat ini dilontarkan oleh orang2 komunis. Padahal tdk seperti itu. Setidaknya ada 4 ayat di dlm al-Quran yang menjelaskan tentang pembagian rezeki :
1. REZEKI TINGKAT PERTAMA (YANG DIJAMIN OLEH ALLAH
"Tidak suatu binatangpun (termasuk manusia) yang bergerak di atas bumi ini yang tidak dijamin oleh Allah rezekinya."(QS. Hud/11: 6)
Artinya Allah akan memberikan makan, minum untuk makhluk hidup di dunia ini. Ini adalah rezeki dasar yg terendah, spt kita lihat orang2 yg tinggal di hutan, mrk bisa tetap hidup tanpa ilmu2 dari Al Quran. Mereka hidup sesuai dgn fitrah manusia yang diberikan oleh Allah. Sama dgn binatang2 dan makhluk Allah lainnya. Mereka tahu mencari makan,tahu berkembang biak dan tahu melahirkan anak2nya dan tahu menjaga diri dari mangsanya.vItulah FITRAH DASAR dari Allah.

2. REZEKI TINGKAT KEDUA
"Tidaklah manusia mendapat apa-apa, kecuali apa yang telah dikerjakannya" (QS. 53: 39)

Allah akan memberikan rezeki sesuai dengan apa yang dikerjakannya. Jika ia bekerja dua jam, dapatlah hasil yang dua jam. Jika kerja lebih lama, lebih rajin, lebih berilmu, lebih sungguh2, ia akan mendapat lebih banyak.

Dgn kata lain, jika seseorang ingin mendapatkan rezeki lebih banyak, ia haruslah belajar lebih banyak dan sungguh2 dlm bekerja. Tdk pandang apakah org itu beriman atau kafir. Itulah keadilan Allah terhadap makhluk-Nya.

3. REZEKI TINGKAT KETIGA
“... Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (QS. Ibrahim/14: 7)

Inilah rezeki yang disayang Allah. Orang2 yg pandai bersyukur akan dapat merasakan kasih sayang Allah. Sebagai contoh: Orang yg pandai mensyukuri (berterima kasih) atas bantuan org lain, akan mudah mendapat bantuan lainnya (sebagai tambahan), tapi jika ia tidak pandai mensyukuri, atau tidak pandai berterimakasih akan bantuan yang sudah diterimanya, maka ia tidak akan dapat pertolongan lagi. Hidupnya akan susah lagi. Bukan Allah yang menghendaki, tapi ia sendiri yang tidak pandai bersyukur.

Orang yang pandai bersyukur akan mendapat rezeki yang lebih banyak. Janji Allah tidak meleset sedikit pun! Orang yang pandai bersyukurlah yang dapat hidup bahagia, sejahtera dan tentram. Usahanya akan sangat sukses, karena Allah tambahkan selalu.

“.... Dan barang siapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur kepada dirinya sendiri..." (QS. Luqman/31: 12)

4. REZEKI KE EMPAT (UNTUK ORANG2 BERIMAN DAN BERTAQWA)
".... Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS. Ath-Thalaq/65:2-3)

Peringkat rezeki yang ke empat ini adalah rezeki yang istimewa, tidak semua orang bisa meraihnya. Orang istimewa ini (muttaqun) adalah orang yang benar2 dicintai dan dipercaya oleh Allah untuk memakmurkan atau mengatur kekayaan Allah di bumi ini.

Banyak pakar mengatakan bhw rezeki yg tidak terbatas itu didapatkan dgn berwira-usaha, suatu bentuk usaha yg dijalankan oleh Rasulullah SAW dan para sahabat.

Sekiranya dalam suatu negeri terdapat banyak orang bertaqwa dan orang2 yang sukses berwira usaha, maka negeri itu akan makmur, lapangan kerja terbuka. Inilah janji Allah di dalam al-Qur'an.

"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya" (QS. al-A'raf/7: 96)

Rezeki yang ke empat ini amat istimewa, tidak semua orang yang bisa menerimanya, kecuali orang2 yang betul2 bertaqwa kepada Allah SWT. Orang bertaqwa ini, di dunia mereka mendapat kemudahan2 atau sukses dari Allah, dan di akirat mereka mendapatkan syurga pula.

"Sesungguhnya orang yang bertaqwa itu berada dalam surga (taman-taman) dan (di dekat) mata air mata air yang mengalir. (Dan dikatakan kepada mereka): Masuklah ke dalamnya dengan sejahtera lagi aman". (QS. al-Hijr/15: 45)

Dan, bagaimanapun:
“Tidak setiap org yg Kuberi nikmat dan Kulapangkan rezekinya berarti dia Kumuliakan, TIDAK! Dan tdk setiap org yg Kumiskinkan berarti dia Kuhinakan, TIDAK! Justru yg satu Kuuji dgn kesenangan, dan yg lain Kumuliakan dgn cobaan”. (Tafsir QS. Al-Fajr/89: 15-16)

Wallahu a’lam…

By: Azharul Fuad.

Selasa, 26 Januari 2010

Takut kepada Allah

|0 komentar
Sesungguhnya seorang mukmin yang bertaqwa itu sangatlah takut kepada Allah SWT, karena mereka sangat yakin bahwa segala sesuatunya menyangkut dirinya hanyalah bergantung kepada kekuasaan-Nya sebagaimana disebutkan dalam Surah An-Nahl (QS. 16:50):

“Mereka takut kepada Rabb mereka yang berkuasa atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka), (QS. 16:50)".

Karena ketakutan inilah mereka sangat patuh terhadap segala sesuatu yang diperintahkan oleh Allah SWT dan menjauhi segala yang dilarang-Nya. Di dalam melakukan segala aktifitasnya mereka sangatlah hati-hati, karena takut padaNya. Jangankan terjerumus ke dalam maksiat, menyerempet saja mereka sangat amatlah takut akan murkanya Allah SWT. Yang mereka cari hanyalah ridho dari-Nya, seperti yang dinyatakan Al-Qur’an:“Allah mengetahui segala sesuatu yang di hadapan mereka (malaikat) dan yang di belakang mereka, dan mereka tidak memberi syafaat melainkan kepada orang-orang yang diridhai Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya. (QS. 21:28)

Imam Al-Ghazali menggambarkan bahwa orang yang taqwa dan takut kepada Allah itu selalu berusaha untuk menekan segala kecederungan buruk dari dirinya dan membangkitkan amal-amal baik yang diperintahkan Allah SWT dengan cara mengendalikan segala gerakan hati dan jasadnya. Beliau menerangkan ciri-ciri orang yang takut kepada Allah SWT, yaitu:

Menjaga hati dari sikap yang tercela, iri, dengki, hasad dsb dan menggantikannya dengan gerak hati yang baik yakni berbaik sangka, bersahabat, kasih, sayang dst.

Menjaga lisan dari perkataan yang tidak baik, kotor dan bahkan yang kurang bermanfa’at dengan menggantikannya dengan perkataan yang bermanfa’at, khususnya melafazkan kata-kata dzikir terhadap Allah SWT.

Menjaga perut dari memakan makanan yang haram, baik yang haram karena dzatnya maupun yang haram karena cara mendapatkannya. Dan sudah tentu hanya makanan yang halallah yang dapat memberikan keberkahan dalam perkembangan jasad maupun rohani kita.
Menjaga penglihatan dari hal yang dilarang Allah SWT, seperti melihat aurat orang lain yang bukan muhrimnya dsb.

  • Menjaga tangan dari berbuat yang maksiat.
  • Menjaga kaki dari melangkah kepada yang tidak baik.
  • Menjaga telinga dari mendengar hal-hal yang tidak bermanfa’at.
    Serta menjaga kemaluannya dari berbuat zina.


Beruntunglah orang-orang yang secara konsisten (istiqomah) menjaga jasad dan rohaninya dari larangan Allah SWT dikarenakan takut kepadaNya, baik ketika bersama-sama orang lain maupun dalam keadaan sendiri. Karena mereka yakin bahwasanya mereka bukan hanya “diintip” tetapi bahkan “ditonton” oleh Allah SWT. Dan puncak segala kenikmatan yang dijanjikan Allah SWT terhadap hambaNya yang takut padaNya dan hanya mengharapkan ridho-Nya ini, dipaparkan Allah SWT dalam Al-Qur’an:
“Balasan mereka di sisi Rabb mereka ialah surga 'Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya.Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Rabbnya.” (QS. 98:8)

Semoga kita digolongkan kepada hambaNya yang bertakwa sebagaiman yang dipaparkan diatas.
By : Kultum
Judul: TAKUT KEPADA ALLAH

Senin, 04 Januari 2010

Hikmah Dibalik Pergantian Tahun

|0 komentar
Saudara-saudara, kita sebenarnya tidak perlu memperingati atau merayakan tahun baru. Yang perlu kita lakukan adalah menumbuhkan tekad atau komitmen untuk punya semangat baru. Kita harus rayakan semangat baru itu pada tahun baru ini. Ya, semangat untuk punya rasa mandiri, tidak minder sebagai bangsa yang besar dengan potensi alam yang besar. Jangan kita rendah diri. Kita harus punya keberanian untuk percaya diri di depan bangsa-bangsa di dunia. Jangan sampai kita kalah dengan negara tetangga kita, yang kecil bahkan kebutuhan airnya saja itu harus ngimpor tetapi punya percaya diri yang besar. Kita harus bersatu untuk sukses hidup.

Hari demi hari berlalu, demikian juga minggu, bulan, dan tahun. Tak terasa kita sudah berada di tahun baru 2010 M, tahun dimana harus meningkatnya seluruh kegiatan, perbuatan, dan amal kita kepada yang lebih baik dari yang sebelumnya. Kita pun selalu mendengar dalam sebuah hadist yang dikatakan:

“Barangsiapa yang harinya lebih baik dari yang kemarin, maka dia beruntung, barangsiapa yang harinya sama dengan hari yang kemarin maka ia merugi, barangsiapa yang harinya lebih jelek dari yang kemarin, maka dia celaka.”

Kita, baik secara individu maupun masyarakat, dalam hari-hari yang telah berlalu itu, senantiasa mengisi lembaran-lembaran yang setiap tahun kita tutup untuk kemudian membuka lagi dengan lembaran-lembaran baru pada tahun berikutnya. Lembaran-lembaran itu adalah sejarah hidup kita secara amat rinci. Itulah kelak yang akan disodorkan kepada kita untuk dibaca dan dipertanggungjawabkan dihadapan Allah SWT pada hari kiamat nanti.

“Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu.” (Al-Israa’: 14),

kemudian Allah SWT pun berfirman dalam surat Al-Jaatsiyah ayat 28:

“Dan (pada hari itu) kamu lihat tiap-tiap umat berlutut, tiap-tiap umat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amalnya. Pada hari itu kamu diberi balasan terhadap apa yang Telah kamu kerjakan.”

Oleh karena itu sebaiknya kita mengetahui bahwa keimanan terhadap penghisaban pada hari kiamat mewajibkan disegerakannya koreksi diri dan persiapan diri. Kita pun seringkali mendengar, “Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab.”

Allah SWT juga berfirman dalam surat Al-Anbiyaa’ ayat 47:

“Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawipun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai Pembuat perhitungan.”

Dan barang siapa menghisab dirinya termasuk waktu-waktu yang dipergunakan dan apa yang ia pikirkan, niscaya akan ringan kesedihan yang harus ditanggung di hari kiamat nanti. Tetapi barangsiapa tidak menghisab dirinya, maka kekal-lah kesedihannya dan menjadi banyak pemberhentiannya di hari kiamat. Dalam hal ini Allah SWT berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (Ali ‘Imran: 200)

Setelah kita mengetahui dan kita melihat segala kekurangan dalam diri kita, maka kita harus ingat selalu terhadap firman Allah SWT dalam surat Ar-Ra’d ayat 11:

“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”

Begitulah bunyi sebuah ayat yang menafikan secara tegas ketentuan sejarah dan secara tegas pula sikap terdalam manusia sebagai penentu sejarah. Dari sini dapat dipahami mengapa para Nabi memulai langkah mereka dengan menanamkan kesadaran terdalam dalam jiwa ummat. Dari mana kita datang? Kemana kita akan menuju? Bagaimana alam ini terwujud dan ke arah mana ia bergerak? “Semua dari Allah dan akan kembali kepadaNya” dan “Akhir dari segala siklus adalah kembali ke permulaan,” demikian para filosof muslim merumuskan.

Nah, kalau manusia atau masyarakat mampu mengisi hari-hari yang berlalu dalam hidupnya atas dasar kesadaran diatas, maka disanalah dia akan memperoleh kebahagiaan abadi. Dengan ini semua dan dengan pergantian tahun hijriah ini mari kita merubah mulai dari diri kita sendiri, karena adalah mimpi bisa merubah apapun dengan baik tanpa diawali merubah diri sendiri, kita perbaiki diri sendiri berarti kita mulai memperbaiki segalanya. Selanjutnya mulai dari hal yang terkecil, karena tak ada prestasi besar, kecuali rangkaian prestasi kecil dan mudah. Kemudian mari kita mulai dari saat ini juga, janganlah menunda, karena belum tentu ada hari esok, keberuntungan kita adalah kebaikan yang kita laksanakan saat ini.

Pergantian tahun, hakekatnya adalah sama dengan pergantian bulan hari, siang dan malam, juga detik demi detik. Pergantian waktu substansinya adalah dari nafas yang satu ke nafas berikutnya, dan pertanyaan mendasar adalah bagaimana kita telah mengelola nafas yang telah diberikan oleh Allah swt. Pergantian tahun harusnya menyadarkan kita bhw kita semakin jauh dari dunia dan semakin dekat ke akhirat.

Apakah waktu-waktu yang telah kita lalui, lebih banyak digunakan untuk bertaqarub, bersyukur, atau bahkan sebaliknya hari-hari yang kita lalui lebih banyak untuk bermaksiat ria dengan segala pranata dunia seisinya. Seandainya saja, waktu yang telah kita lalui lebih banyak melupakan Allah, selalu tidak bersyukur atas anugerah-Nya, bahkan mempergunakan nikmat-nikmat Allah sebagai sarana untuk menentangNya, maka pantaslah jika pergantian tahun ini kita isi dengan BERTAUBAT, dan bukan dengan hal-hal yang sia-sia bahkan dgn hal-hal yang dilarang agama

Senin, 21 Desember 2009

JIHAD SEORANG IBU

|0 komentar
Tanggal 22 Desember datang kembali menghampiri kita. Pada tanggal ini di Indonesia diperingati sebagai hari Ibu. Di dalam Islam memang tidak dikenal -secara khusus- mengenai penetapan Hari Ibu, tapi begitu banyak ayat-ayat di dalam al-Qur’an dan Hadits Nabi SAW yang berkaitan dengan Ibu. Dalam sebuah hadits disebutkan:

Dari Abdullah bin Mas’ud katanya, “Aku bertanya kpd Nabi SAW tentang amal-amal yg paling utama dan dicintai Allah? Nabi SAW menjawab, “Shalat pada awal waktu, berbakti kpd kedua orang tua dan jihad di jalan Allah” (HR. Bukhari)

Dengan demikian jika ingin kebajikan, hrs didahulukan amal-amal yg paling utama diantaranya adalah Birrul Waalidain (berbakti kpd kedua orang tua).

Rasulullah SAW pun bersabda, ''Setiap jerih payah istri di rumah sama nilainya dengan jerih payah suami di medan jihad.'' (HR Bukhari dan Muslim).



Pada dasarnya, Islam telah memberikan keistimewaan kepada para istri (ibu) untuk tetap berada di rumahnya. Untuk mendapatkan surga-Nya kelak, para istri cukup berjuang di rumah tangganya dengan ikhlas. Tetesan keringat mereka di dapur dinilai sama dengan darah mujahid di medan perang.

Menjadi ibu rumah tangga kedengarannya memang sepele dan remeh, hanya berkecimpung dengan urusan rumah dari A-Z, namun siapa sangka banyak sekali kebaikan dan hikmah yang dapat diperoleh. Ibulah yang mengambil porsi terbesar dalam pembentukan pribadi sebuah generasi.

Pertumbuhan suatu generasi bangsa pertama kali berada di buaian para ibu. Di tangan ibu pula pendidikan anak ditanamkan dari usia dini, dan berkat keuletan dan ketulusan ibu jualah bermunculan generasi-generasi berkualitas dan bermanfaat bagi bangsa dan agama.

Dalam Islam, ini adalah tugas besar, namun sangat mulia dan akan dipertanggungjawabkan di akhirat. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, ''Seorang istri pemimpin di rumah suaminya dan dia bertanggung jawab atas kepemimpinannya.'' (HR Bukhari dan Muslim).

Sayangnya, kebanyakan wanita modern saat ini tidak menyukai aktivitas rumah tangga. Mereka lebih bangga bekerja di luar rumah karena beranggapan tinggal di rumah identik dengan ketidakmandirian dan ketidakberdayaan ekonomi. Maka, jadilah peran ibu di rumah dianggap rendah, dan tidak sedikit ibu rumah tangga yang malu-malu ketika ditanya apa pekerjaannya.

Meskipun seorang wanita tidak bekerja setelah lulus sarjana, ilmunya tidak akan sia-sia, sebab ia akan menjadi ibu sekaligus pendidik bagi anak-anaknya. Kebiasaan berpikir ilmiah yang ia dapatkan dari proses belajar di bangku kuliah itulah yang akan membedakannya dalam mendidik anak. Seorang ibu memang harus cerdas dan berkualitas, sebab kewajiban mengurus anak tidak sebatas memberi makan.

Ia harus mampu merawat dan mendidik anak-anaknya dengan benar, penuh kasih sayang, kesabaran, menempanya dengan nilai dan norma agama agar sang anak mampu menghindar dari pengaruh lingkungan dan kemajuan teknologi yang merusak akal dan akhlaknya. Hal itu hanya dapat dilakukan oleh seorang ibu yang cerdas.

Sejarah mencatat bahwa peranan ibu dalam pendidikan anak sangat penting, karakter anak sangat tergantung kepada pendidikan yang diberikan oleh ibu. Bagaimana tidak? Peranan ibu dalam mendidik anak dimulai sejak anak masih berada dalam kandungan. Seorang ibu yang sholehah bertanggung jawab penuh terhadap pendidikan buah hatinya. Hal ini tidak dapat dipindahtangankan kepada orang lain. Itulah sebabnya dikatakan rumah adalah sekolah pertama bagi anak-anak, dan gurunya adalah ibu.

Hasan Al-Bana pernah mengatakan bahwa ibulah yang membangun pertumbuan anak dan menjadi panutan yang diteladani sang bayi, ibulah yang pertama kali menandai kehidupan remaja untuk menjadi dewasa di atas jalan yang lurus. Corak ibulah yang akan mulai mewarnai anak. Karena dialah yang selalu berada di dekatnya.

Nabi Musa as, menjadi orang besar tidak lain karena dididik oleh Asiah istri Fir’aun. Asiah, walaupun berada di tengah-tengah kaum yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya, namun ia tetap berpegang teguh kepada Allah swt. Isa as, menjadi orang besar juga tidak lain karena didikan ibundanya Siti Maryam. Begitupun Rasulullah saw, menjadi orang besar tidak lepas dari peranan ibundanya Aminah.

Dalam hal memperlakukan anak, Nabi SAW bersabda:
“Hormatilah anak-anakmu dan didiklah mereka. Allah SWT memberi rahmat kepada seseorang yang membantu anaknya sehingga sang anak dapat berbakti kepadanya”. Sahabat Nabi bertanya : “Bagaimana cara membantunya ?” Nabi saw menjawab : “Menerima usahanya walaupun kecil, memaafkan kekeliruannya, tidak membebaninya dengan beban berat, dan tidak pula memakinya dengan makian yang melukai hatinya”.

Begitupun kita sebagai anak, Allah dan Rasul-Nya mewajibkan kita untuk berbakti kepada orang tua. Sampai kepada, seandainya, keduanya menyuruh kita untuk menyekutukan Allah, kita diperintahkan untuk tetap bergaul dgn baik dan berkata kepada keduanya dengan perkataan yang lembut.

Begitu besar jasa kedua orang tua, sehingga apapun yg kita lakukan untuk berbakti kpd keduanya tdk akan dpt membalas jasa keduanya. Di dalam hadits yg diriwayatkan oleh Imam Bukhari disebutkan bahwa ketika sahabat Abdullah bin Umar ra melihat seseorang menggendong ibunya untuk thawaf di Ka’bah dan ke mana saja ‘Si Ibu’ menginginkan, orang tersebut bertanya kpdnya: “Wahai Abdullah bin Umar, dgn peruntukanku ini apakah aku sudah membalas jasa ibuku.?” Abdullah bin Umar ra menjawab: “Belum, setetespun engkau belum dpt membalas kebaikan kedua orang tuamu”

Ketika ada seorang anak muda datang menghadap Rasulullah SAW seraya meminta izin untuk ikut andil berjihad bersama beliau, maka beliau bertanya, “Apakah engkau masih mempunyai ibu?” Orang itu menjawab, “Ya, masih”. Beliaupun kemudian bersabda:

“Bersungguh-sungguhlah dalam berbakti kepada ibumu, karena sesungguhnya surga itu berada di bawah kedua kakinya”.

SELAMAT HARI IBU, BUNDA… Semoga Allah SWT senantiasa memberikan rahmat, keberkahan dan kesehatan kepadamu… Salah satu nikmat yang paling aku syukuri di dunia ini adalah terlahir dari perutmu dan menjadi anakmu…

Wallahu a'lam bish shawab…

Jumat, 23 Oktober 2009

Wajah Marah di Langit Teluk Kabung Padang

|0 komentar
Fitra Iskandar - Okezone
sumber : www.okezone.com

Padang, Keindahan semburat lembayung di langit Teluk Kabung Kota Padang, Sumatera Barat sore hari pukul 18.30 WIB 8 Oktober 2009 lalu membuat Rinus Indra terpana.

Rinus yang bekerja sebagai boarding officer di perusahaan tanker ini, lalu mengambil kameranya dan mengabadikan pemandangan di Teluk Kabung dari atas kapal.

Setelah puas, Rinus bergegas turun dari wing bridge kapal tanker untuk menunaikan salat magrib. Rinus sendiri berada di padang karena ditugaskan sebagai boarding officer di kapal tanker yang menyuplai BBM ke Padang itu dan bertugas dari tanggal 4 sampai 9 Oktober.

Sebagai pendatang, Rinus memang merasa kagum dengan keindahan alam Padang yang dilihatnya, sehingga setelah menunaikan salat, Rinus pun tak menyia-nyiakan waktu lagi untuk memandangi hasil jepretannya.

"Satu persatu saya amati dengan sekasama foto-foto yang telah saya ambil. Sungguh luar biasa memang, Padang memiliki keindahan alam yang tiada taranya. Sungguh indah, sempat saya tersenyum sendiri karna baru sadar kenapa hampir setiap kali saya makan di warung makan nasi Padang selalu melihat lukisan pemandangan yang ditempel di dinding warung-warung. Ini kali jawabannya, biar selalu ingat kampuang halaman nyo," seloroh Rinus.

Namun sampail pada slide 30, Rinus terkejut melihat gambar yang tampak di layar laptopnya bentuk lembayung yang tampak berwujud wajah manusia dengan mimik marah. "Padahal waktu saya lihat tidak ada," kisah Rinus.

Wajah itu lengkap memiliki sepasang mata, hidung dan mulut yang menganga. Dan yang lebih mengejutkannya dia menemukan sebaris kata dalam tulisan arab.

"Pengetahuan akan bahasa arab saya memang tidak secanggih lulusan-lulusan mahasiswa Kairo-Mesir, dalam lembayung itu. Saya membaca ada tulisan Muhammad dan Allah, namun karna saya masih merasa antara percaya dan ga percaya lalu memanggil 2 orang perwira senior yang menemani saya tadi sore dalam pengambilan gambar, dan jawaban mereka pun sama dengan apa yang saya baca.Wallahu a'lam bishshawab. Saya hanya berbagi saja," kata Rinus.

"Apapun yang terbaca dan terdokumentasikan di balik rahasia kode alam tersebut,saya sangat bersyukur atas Ridhonya Allah Subhanahu wata ala," tutur Rinus.

Kamis, 15 Oktober 2009

MEMBANGUN NAGORI UNTUK CINTA DAN TAKUT HANYA KEPADA ALLAH SWT

|0 komentar
oleh : Anwal, Malaysia
Wabah penyakit paling parah, berbahaya dan kronis yang menimpa dunia saat ini ternyata bukanlah sakit jantung, kanker, tumor, paru-paru, flu burung atau yang lainnya. Karena penyakit-penyakit yang disebutkan tersebut, jika si penderitanya sabar dan redha kepada Allah maka akan mejadi penghapus dosa-dosanya dan mendapat nilai di sisiNya.Lalu apa sebenarnya wabah penyakit yang kronis menimpa dunia hari ini? Penyakit ini sering tidak dianggap penyakit karena dia bersifat ruhani atau maknawi, nama penyakit ini adalah penyakit tidak takut dan tidak cinta pada Allah SWT.
Tidak takut dan tidak cinta pada Allah adalah penyakit besar yang sedang melanda dunia saat ini. Orang yang tidak takut dan tidak cinta pada Allah, kalau dia tidak berbuat jahat pada orang lain, dia tetap dianggap jahat secara hakikatnya. Paling tidak menurut pandangan Allah. Jika menurut pandangan manusia, selagi kejahatan itu belum dilahirkan dan terjadi, dia belum dianggap jahat. Tetapi di sisi Tuhan, ia tetap dianggap jahat sebab sumber kejahatan itu sudah ada pada dirinya.Bila manusia terjangkit penyakit tidak takut dan tidak cinta Tuhan artinya jati diri orang itu sudah roboh. Ketahanan dirinya sudah roboh. Bila ketahanan diri sudah roboh, maka dengan mudah berbagai kejahatan akan masuk ke dalam dirinya. Kenapa bisa begitu?karena asas kejahatan, atau tapak bagi kejahatan itu sudah ada di dalam hatinya. Bila orang tidak takut Tuhan, dia tidak takut hendak berbuat jahat dengan makhluk Tuhan. Bila orang tidak cinta Tuhan, otomatik dia tidak cinta dengan makhluk Tuhan. Sebab itu kalaupun dia belum mengganggu orang, tetapi asas kejahatan sudah ada, yakni tidak takut dan tidak cinta Tuhan, itu sudah dianggap kejahatan pada pandangan Allah. Jati dirinya sudah tumbang. Pintu kejahatan sudah terbuka luas. Ibarat bom waktu yang Maha Dahsyat, hanya tinggal menunggu waktu saja, hendak dibuat atau tidak.
Bila tidak takut dan tidak cinta Tuhan, terkadang dengan kejahatan orang lain, dia pun ikut menjadi jahat. Contoh: Misalnya dalam pergaulan, ada kawan-kawannya yang berbuat kesalahan, maka dia tidak tahan dan tidak sabar. Lantas dia marah marah. Artinya dengan kejahatan orang, dia pun ikut menjadi jahat, ikut mengumbar amarah dan mazmumah. Inilah yang dikatakan jati dirinya sudah tidak ada. Padahal yang jahat orang lain tetapi dia pun ikut berbuat jahat karena jati diri sudah tiada. Semestinya kalau orang lain berbuat jahat, biarlah orang itu saja yang jahat. Tetapi dia tidak tahan. Dengan kejahatan orang lain, dia pun ikut berbuat jahat. Sebab itulah kalau orang takut dan cinta pada Tuhan, artinya hati orang itu bersih daripada benih kejahatan. Bila benih kejahatan tidak ada, tidak mungkin benih itu akan tumbuh subur. Kejahatan dapat subur itu kalau ada benihnya. Orang berkata, benih itu kalau dipupuk dia akan akan subur tetapi kalau benih tidak ada, tidak mungkin akan subur.
Bila seseorang ada rasa takut dan cinta Tuhan, bermerbagai macam kejahatan susah hendak masuk dalam dirinya. Contoh, misalkan kita seorang suami, pulang ke rumah pukul 12 malam. Kita ketuk pintu, memberi salam, isteri tidak bangun-bangun. Sudah lama kita ketuk, barulah dia membuka pintu. Apa kata hati kita? “Mungkin dia mengantuk.Masa orang yang mengantuk tidak dimaafkan?.” Kita disitu masih dapat berlapang dada. Tapi kalau kita tidak takut dan tidak cinta Tuhan, kalaulah kita bukan seorang penampar muka isteri, amarah kita sudah keluar membara berkobar-kobar meruntuhkan mahligai pernikahan.
Contoh lain, kita bergaul dalam masyarakat, tiba-tiba ada orang berbuat jahat terhadap kita. Hati kita bersangka baik, “Dia tidak merasa agaknya, dia sepertinya tidak sengaja.” Ataupun kita takwilkan, “Dosa apa yang aku perbuat sampai Tuhan menghukumku seperti ini. Sehingga kawanku dapat berbuat jahat begini, padahal dia kawan baik pula. Ini pasti karena ada dosa atau kesalahan saya kepadanya.” Bila dia sudah memiliki rasa takut dan cinta Tuhan, dia dapat berlapang dada.
Kalau kita kaji secara halus atau tersirat, oleh karena Allah sebenarnya sayang kepada maka kita, kesalahan kita cepat dibalas supaya di akhirat berkurang hukuman kita.
Contohnya, ada sebuah kisah di dalam kitab.Sebuah keluarga, si suami pedagang emas. Dia keluar pagi, malam baru kembali. Suami isteri ini orang yang taat beragama. Mereka memiliki seorang pegawai lelaki yang baik. Suatu hari waktu suami tiada di rumah, pegawai itu mengulurkan satu barang pada isteri tuan rumah dari balik pintu, dari luar rumah. Mereka tidak saling memandang satu sama lain. Entah bagaimana waktu mengulurkan barang itu, pegawai itu tidak sengaja memegang tangan perempuan ini. Perempuan itu merasa pegawai itu memegang tangannya dengan bernafsu. Perempuan itu tidak marah tetapi dia berfikir dosa siapa yang menyebabkan peristiwa itu terjadi dan Allah izinkan terjadi. Apakah dosa dia atau dosa suaminya. Ketika suami kembali, dia bertanya pada suaminya,”Saya minta abang jangan berbohong. Waktu abang di toko emas tadi, apa yang terjadi?” Suami itu orang yang takut Tuhan. Dia berkata,”Tadi abang bersalah. Syaitan menggoda abang. Ada perempuan membeli cincin, abang sarungkan cincin dan abang pegang tangannya dengan bernafsu.” Perempuan itu berkata,”Patutlah saya terkena hukuman Tuhan, abang pun terkena hukuman Tuhan. Pegawai yang baik itu memegang tangan saya. Ini hukuman bagi abang.”
Inilah cerita dalam kitab. Kadang-kadang karena Allah sayang kepada seseorang, maka Dia tidak biarkan kesalahan hambanya terlalu lama. Tuhan menghukumnya. Bila orang sudah cinta Tuhan, artinya ketahanan dirinya sudah wujud. Di sinilah rahasia mengapa gejala negatif dalam masyarakat sulit hendak diberantas. Karena orang jahat dan orang yang hendak memperbaiki kejahatan itu pun sama-sama tidak takut Tuhan.
Antara murid dengan guru, guru pening kepala dengan kejahatan murid seperti membolos, tidak displin, tidak membuat pekerjaan rumah. Dia berfikir, “Jahat betul murid saya ini.” Kenapa dia merasakan muridnya jahat? Karana dia tidak membuat kejahatan seperti yang dibuat murid itu, maka dia merasa muridnya jahat. Tetapi sebenarnya dia pun berbuat kejahatan lain sehingga Tuhan membalasnya. Guru tidak tawuran, murid tawuran. Tetapi kenapa dia tidak dapat mendidik muridnya? Sebab dia pun berbuat kejahatan. Cuma kejahatannya tidak sama. Misalnya di rumah suka menempeleng isteri, dsb. Bagaimana orang jahat hendak memperbaiki orang jahat?
Karena itu jika terjadi gejala social negatif dikalangan pemuda pemudi, kalau ingin menangani kejahatan itu, guru atau menteri, jangan hanya mencari kesalahan pemuda-pemudi. Carilah kejahatan sendiri dan bertaubat. Kalau terus bertindak sedangkan kita, menteri, guru, tidak nampak kejahatan sendiri, maka itulah sebabnya Allah tidak menolong kita.
Oleh karena itu setiap orang yang hendak menangani gejala masyarakat, dia hendaklah berfikir dulu apa dosanya. Hendaklah dia bertaubat dan minta tolong dengan Tuhan. Barulah menangani masalah. Barulah Tuhan akan menolong. Tetapi ilmu ini sudah tidak diamalkan lagi sekarang. Guru nampak murid murid jahat tetapi dia tidak merasa dirinya jahat. Begitulah juga kalau politisi hendak memperbaiki masyarakat. Masyarakat ada kejahatannya sendiri manakala orang politik pun ada kejahatan sendiri. Mungkin dia tidak suka berkelahi seperti masyarakatnya tetapi mungkin dia mengamalkan sogok dan suap. Bagaimana orang jahat hendak memperbaiki kejahatan orang lain?
Mana ada orang sekarang mengatakan bahwa segala kejahatan adalah berawal dari manusia tidak takut dan tidak cinta Allah? Ini ilmu yang tersirat. Tidak takut dan tidak cinta pada Allah adalah sumber kejahatan.
Bagi orang yang takut dan cintakan Tuhan, dia tidak cepat bertindak. Dia berfikir dahulu. Mungkin suatu hal itu terjadi karena dosanya. Dia pun bertaubat. Kalau dia fikir-fikir tetapi dia tidak berjumpa dosanya maka dia bertanya kepada Allah, walaupun dia tidak tahu dosanya apa, tapi dia tahu dia bersalah jadi dia minta ampun. Setelah itu barulah dia minta Allah menolong dia. Sebab itulah Rasulullah, walaupun orang melempar batu dan pasir padanya, dia doakan supaya orang itu diberi petunjuk.
Jadi kalau orang berbuat jahat pada kita, kita pun hendak membalasnya, maka artinya kita sama-sama jahat. Orang yang baik, dia tidak akan langsung bertindak. Yang paling baik, dia minimal akan berfikir, apa dosanya sehingga ada orang yang berbuat jahat padanya. Dia senantiasa berbaik sangka atau khusnuzon dengan Allah. Perasaan atau hati seperti ini adalah hasil dari cinta dan takut pada Allah.
Jadi bagi orang yang hendak memperbaiki masyarakat, tidak boleh hanya membuat undang undang dan peraturan saja. Kejahatan datang dari hati yang tidak takut dan tidak cinta pada Allah. Mestinya kita betulkan hati dahulu supaya takut dan cinta kepada Tuhan.
Takut dan cinta Tuhan adalah ibu segala kebaikan. Tetapi kalau tidak takut dan tidak cinta Tuhan, itulah ibu segala kejahatan
Ke arah mana kita hendak membangun?
Wallahu A’lam Bi sawab!


Senin, 14 September 2009

Tanda-Tanda Saat Kematian

|0 komentar
a) 100 hari : Seluruh badan rasa bergegar.
b) 60 hari : Pusat rasa bergerak-gerak.
c) 40 hari : Daun dengan nama orang yang akan mati di arash akan
jatuh dan malaikat maut pun datang kepada orang dengan nama tersebut lalu mendampinginya sehingga saat kematiannya. Kadang-kadang orang yang akan mati itu akan merasa atau nampak kehadiran malaikat maut tersebut dan akan sering kelihatan seperti sedang rungsing.
d) 7 hari : Mengidam makanan.
e) 5 hari : Anak lidah bergerak-gerak.
f) 3 hari : Bahagian tengah di dahi bergerak-gerak.
g) 2 hari : Seluruh dahi rasa bergerak-gerak.
h) 1 hari : Terasa bahagian ubun bergerak-gerak di antara waktu subuh dan asar.
i) Saat akhir : Terasa sejuk dari bahagian pusat hingga ke tulang solbi (dibahagian belakang badan) Seelok-eloknya bila sudah merasa tanda yang akhir sekali, mengucap dalam keadaan qiam dan jangan lagi bercakap-cakap.

Bila Malaikat Mencabut Nyawa
Baginda Rasullullah S.A.W bersabda: "Apabila telah sampai ajal seseorang itu maka akan masuklah satu kumpulan malaikat ke dalam lubang-lubang kecil dalam badan dan kemudian mereka menarik rohnya melalui kedua-dua telapak kakinya sehingga sampai kelutut.
Setelah itu datang pula sekumpulan malaikat yang lain masuk menarik roh dari lutut hingga sampai ke perut dan kemudiannya mereka keluar. Datang lagi satu kumpulan malaikat yang lain masuk dan menarik rohnya dari perut hingga sampai ke dada dan kemudiannya mereka keluar. Dan akhir sekali datang lagi satu kumpulan malaikat masuk dan menarik roh dari dadanya hingga sampai ke kerongkong dan itulah yang dikatakan saat nazak orang itu."

Sambung Rasullullah S.A.W. lagi:
"Kalau orang yang nazak itu orang yang beriman, maka malaikat Jibrail A.S. akan menebarkan sayapnya yang disebelah kanan sehingga orang yang nazak itu dapat melihat kedudukannya di syurga. Apabila orang yang beriman itu melihat syurga, maka dia akan lupa kepada orang yang berada disekelilinginya. Ini adalah kerana sangat rindunya pada syurga dan melihat terus pandangannya kepada sayap Jibrail A.S."

Kalau orang yang nazak itu orang munafik, maka Jibrail A.S. akan menebarkan sayap disebelah kiri. Maka orang yang nazak tu dapat melihat kedudukannya di neraka dan dalam masa itu orang itu tidak lagi melihat orang disekelilinginya. Ini adalah kerana terlalu takutnya apabila melihat neraka yang akan menjadi tempat tinggalnya.

Dari sebuah hadis bahawa apabila Allah S.W.T. menghendaki seorang mukmin itu dicabut nyawanya maka datanglah malaikat maut. Apabila malaikat maut hendak mencabut roh orang mukmin itu dari arah mulut maka keluarlah zikir dari mulut orang mukmin itu dengan berkata: "Tidak ada jalan bagimu mencabut roh orang ini melalui jalan ini kerana orang ini sentiasa menjadikan lidahnya berzikir kepada Allah S.W.T. "Setelah malaikat maut mendengar penjelasan itu, maka dia pun kembali kepada Allah S.W.T. dan menjelaskan apa yang diucapkan oleh lidah orang mukmin itu.

Lalu Allah S.W.T. berfirman yang bermaksud:
"Wahai malaikat maut, kamu cabutlah ruhnya dari arah lain."Sebaik saja malaikat maut mendapat perintah Allah S.W.T. maka malaikat maut pun cuba mencabut roh orang mukmin dari arah tangan. Tapi keluarlah sedekah dari arah tangan orang mukmin itu, keluarlah usapan kepala anak-anak yatim dan keluar penulisan ilmu.

Maka berkata tangan: Tidak ada jalan bagimu untuk mencabut roh orang mukmin dari arah ini, tangan ini telah mengeluarkan sedekah, tangan ini mengusap kepala anak-anak yatim dan tangan ini menulis ilmu pengetahuan."

Oleh kerana malaikat maut gagal untuk mencabut roh orang mukmin dari arah tangan maka malaikat maut cuba pula dari arah kaki. Malangnya malaikat maut juga gagal melakukan sebab kaki berkata: "Tidak ada jalan bagimu dari arah ini kerana kaki ini sentiasa berjalan berulang alik mengerjakan solat dengan berjemaah dan kaki ini juga berjalan menghadiri majlis-majlis ilmu."

Apabila gagal malaikat maut, mencabut roh orang mukmin dari arah kaki, maka malaikat maut cuba pula dari arah telinga. Sebaik saja malaikat maut menghampiri telinga maka telinga pun berkata: "Tidak ada jalan bagimu dari arah ini kerana telinga ini sentiasa mendengar bacaan Al-Quran dan zikir."

Akhir sekali malaikat maut cuba mencabut orang mukmin dari arah mata tetapi baru saja hendak menghampiri mata maka berkata mata:"Tidak ada jalan bagimu dari arah ini sebab mata ini sentiasa melihat beberapa mushaf dan kitab-kitab dan mata ini sentiasa menangis kerana takutkan Allah. "Setelah gagal maka malaikat maut kembali kepada Allah S.W.T. Kemudian
Allah S.W.T. berfirman yang bermaksud: "Wahai malaikatKu, tulis AsmaKu ditelapak tanganmu
dan tunjukkan kepada roh orang yang beriman itu. "Sebaik saja mendapat perintah Allah S.W.T. maka malaikat maut menghampiri roh orang itu dan menunjukkan Asma Allah S.W.T. Sebaik saja melihat Asma Allah dan cintanya kepada Allah S.W.T maka keluarlah roh tersebut
dari arah mulut dengan tenang.

Abu Bakar R.A. telah ditanya tentang kemana roh pergi setelah ia keluar dari jasad. Maka berkata Abu Bakar R.A:"Roh itu menuju ketujuh tempat:
1. Roh para Nabi dan utusan menuju ke Syurga Adnin.
2. Roh para ulama menuju ke Syurga Firdaus.
3. Roh mereka yang berbahagia menuju ke Syurga Illiyyina.
4. Roh para shuhada berterbangan seperti burung di syurga mengikut kehendak mereka.
5. Roh para mukmin yang berdosa akan tergantung di udara tidak di bumi dan tidak di langit sampai hari kiamat.
6. Roh anak-anak orang yang beriman akan berada di gunung dari minyak misik.
7. Roh orang-orang kafir akan berada dalam neraka Sijjin, mereka disiksa berserta jasadnya hingga sampai hari Kiamat."

Telah bersabda Rasullullah S.A.W: Tiga kelompok manusia yang akan dijabat tangannya oleh para malaikat pada hari mereka keluar dari kuburnya:-
i. Orang-orang yang mati syahid.
ii. Orang-orang yang mengerjakan solat malam dalam bulan ramadhan.
iii. Orang berpuasa di hari Arafah. Sekian untuk ingatan kita bersama.

Wassallam.


Senin, 30 Maret 2009

Hikmah Sholat

|0 komentar
Sholat disyari'atkan sebagai bentuk tanda syukur kepada Allah, untuk menghilangkan dosa-dosa, ungkapan kepatuhan dan merendahkan diri di hadapan Allah, menggunakan anggota badan untuk berbakti kepada-Nya yang dengannya bisa seseorang terbersih dari dosanya dan tersucikan dari kesalahan-kesalahannya dan terajarkan akan ketaatan dan ketundukan.

Allah telah menentukan bahwa sholat merupakan syarat asasi dalam memperkokoh hidayah dan ketakwaan, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:

Alif Laaam Miiim. Kitab (Al Qur-an) tidak ada keraguan di dalamnya, menjadi petunjuk bagi mereka yang bertakwa. Yaitu mereka yang beriman kepada yang ghaib, mendirikan sholat dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka. (QS. Al Baqarah : 1-2).

Di samping itu Allah telah mengecualikan orang-orang yang senantiasa memelihara sholatnya dari kebiasaan manusia pada umumnya: berkeluh kesah dan kurang bersyukur, disebutkan dalam fiman-Nya:

Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah dan kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan sholat, yang mereka itu tetap mengerjakan sholat. (QS Al Ma'arij: 19-22).

Manfaat Sholat


Shalat merupakan ibadah yang paling istimewa, shalat memiliki manfaat yang begitu besar bagi kesehatan fisik dan psikis
seseorang, manfaat bagi fisik disebabkan shalat memiliki gerakan sistematis yang unik dan mempengaruhi fungsi organ yang terlibat dalam gerakan tersebut mejadi lebih efisien, sehingga shalat merupakan ibadah yang memberikan dampak medis yang besar. Manfaat psikisnya yaitu diperolehnya ketenangan jiwa yang menyebabkan orang yang melaksanakan sholat dapat terhindar dari stress atau gangguan jiwa serta syaraf. adanya pengaruh fisik dan psikis yang seimbang ini menyebabkan suatu hal yang luar biasa bagi kondisi tubuh.

Banyak pengakuan dari para pasien yang penderita penyakit akut yang secara medis tidak dapat tertolong, namun setelah mereka melakukan shalat dan doa kepada Allah SWT, secara ajaib penyakit yang mereka derita menunjukkan kearah pebyembuhan, dan banyak dari mereka yang mengakui keajaiban ini seperti hilangnya sel kanker dari tubuh mereka yanoa meninggalkan bekas.
Keutamaan Sholat banyak diakui oleh para ilmuan yang meneliti tentang manfaat dari ibadah bagi kesehatan fisik maupun psikologis orang yang melakukannya.

Jumat, 20 Februari 2009

Hikmah Puasa

|0 komentar
Oleh Ustaz Syed Hasan Alatas

"Wahai orang-orang yang beriman ! Diwajibkan kepada kamu puasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang yang sebelum kamu,supaya kamu menjadi orang-orang yang bertaqwa." (S.al-Baqarah:183)

PUASA menurut syariat ialah menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan puasa (seperti makan, minum, hubungan kelamin, dan sebagainya) semenjak terbit fajar sampai terbenamnya matahari,dengan disertai niat ibadah kepada Allah,karena mengharapkan redho-Nya dan menyiapkan diri guna meningkatkan Taqwa kepada-Nya.

RAMAHDAH bulan yang banyak mengandung Hikmah didalamnya.Alangkah gembiranya hati mereka yang beriman dengan kedatangan bulan Ramadhan. Bukan sahaja telah diarahkan menunaikan Ibadah selama sebulan penuh dengan balasan pahala yang berlipat ganda,malah dibulan Ramadhan Allah telah menurunkan kitab suci al-Quranulkarim,yang menjadi petunjuk bagi seluruh manusia dan untuk membedakan yang benar dengan yang salah.

Puasa Ramadhan akan membersihkan rohani kita dengan menanamkan perasaan kesabaran, kasih sayang, pemurah, berkata benar, ikhlas, disiplin, terthindar dari sifat tamak dan rakus, percaya pada diri sendiri, dsb.

Meskipun makanan dan minuman itu halal, kita mengawal diri kita untuk tidak makan dan minum dari semenjak fajar hingga terbenamnya matahari,karena mematuhi perintah Allah.Walaupun isteri kita sendiri, kita tidak mencampurinya diketika masa berpuasa demi mematuhi perintah Allah s.w.t.

Ayat puasa itu dimulai dengan firman Allah:"Wahai orang-orang yang beriman" dan disudahi dengan:" Mudah-mudahan kamu menjadi orang yang bertaqwa."Jadi jelaslah bagi kita puasa Ramadhan berdasarkan keimanan dan ketaqwaan.Untuk menjadi orang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah kita diberi kesempatan selama sebulan Ramadhan,melatih diri kita,menahan hawa nafsu kita dari makan dan minum,mencampuri isteri,menahan diri dari perkataan dan perbuatan yang sia-sia,seperti berkata bohong, membuat fitnah dan tipu daya, merasa dengki dan khianat, memecah belah persatuan ummat, dan berbagai perbuatan jahat lainnya.Rasullah s.a.w.bersabda:

"Bukanlah puasa itu hanya sekedar menghentikan makan dan minum tetapi puasa itu ialah menghentikan omong-omong kosong dan kata-kata kotor."
(H.R.Ibnu Khuzaimah)

Beruntunglah mereka yang dapat berpuasa selama bulan Ramadhan, karena puasa itu bukan sahaja dapat membersihkan Rohani manusia juga akan membersihkan Jasmani manusia itu sendiri, puasa sebagai alat penyembuh yang baik. Semua alat pada tubuh kita senantiasa digunakan, boleh dikatakan alat-alat itu tidak berehat selama 24 jam. Alhamdulillah dengan berpuasa kita dapat merehatkan alat pencernaan kita lebih kurang selama 12 jam setiap harinya. Oleh karena itu dengan berpuasa, organ dalam tubuh kita dapat bekerja dengan lebih teratur dan berkesan.

Perlu diingat ibadah puasa Ramadhan akan membawa faaedah bagi kesehatan
rohani dan jasmani kita bila ditunaikan mengikut panduan yang telah ditetapkan, jika tidak maka hasilnya tidaklah seberapa malah mungkin ibadah puasa kita sia-sia sahaja.

Allah berfirman yang maksudnya:

"Makan dan minumlah kamu dan janganlah berlebih-lebihan sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan." (s.al-A'raf:31)

Nabi s.a.w.juga bersabda:

"Kita ini adalah kaum yang makan bila lapar, dan makan tidak kenyang."

Tubuh kita memerlukan makanan yang bergizi mengikut keperluan tubuh kita. Jika kita makan berlebih-lebihan sudah tentu ia akan membawa muzarat kepada kesehatan kita. Boleh menyebabkan badan menjadi gemuk, dengan mengakibatkan kepada sakit jantung, darah tinggi, penyakit kencing manis, dan berbagai penyakit lainnya. Oleh itu makanlah secara sederhana, terutama sekali ketika berbuka, mudah-mudahan Puasa dibulan Ramadhan akan membawa kesehatan bagi rohani dan jasmani kita. Insy Allah kita akan bertemu kembali.

Allah berfirman yang maksudnya: "Pada bulan Ramadhan diturunkan al-Quran
pimpinan untuk manusia dan penjelasan keterangan dari pimpinan kebenaran
itu, dan yang memisahkan antara kebenaran dan kebathilan. Barangsiapa menyaksikan (bulan) Ramadhan, hendaklah ia mengerjakan puasa.

(s.al-Baqarah:185)

Jumat, 30 Januari 2009

Kisah Islami : Kemiskinan itu Ujian Allah

|0 komentar
sumber: www.eramuslim.com

Punya pendidikan tinggi merupakan impian tiap orang. Tapi, bagaimana jika kemiskinan terus menghadang. Jangankan untuk biaya kuliah, buat makan saja susah.

Berikut ini penelusuran dan wawancara Eramuslim dengan seorang pemulung yang kini bisa terus kuliah di jurusan akuntansi di Pamulang, Tangerang. Mahasiswi berjilbab itu bernama Ming Ming Sari Nuryanti.

Sudah berapa lama Ming Ming jadi pemulung?

Sejak tahun 2004. Waktu itu mau masuk SMU. Karena penghasilan ayah semakin tidak menentu, kami sekeluarga menjadi pemulung.

Sekeluarga?

Iya. Setiap hari, saya, ayah, ibu, dan lima adik saya berjalan selama 3 sampai 4 jam mencari gelas mineral, botol mineral bekas, dan kardus. Kecuali adik yang baru kelas 2 SD yang tidak ikut.


Tempat tinggal Ming Ming berada di perbatasan antara Bogor dan Tangerang. Tepatnya di daerah Rumpin. Dari Serpong kurang lebih berjarak 40 kilometer. Kawasan itu terkenal dengan tempat penggalian pasir, batu kali, dan bahan bangunan lain. Tidak heran jika sepanjang jalan itu kerap dipadati truk dan suasana jalan yang penuh debu. Di sepanjang jalan itulah keluarga pemulung ini memunguti gelas dan botol mineral bekas dengan menggunakan karung.

Tiap hari, mereka berangkat sekitar jam 2 siang. Pilihan jam itu diambil karena Ming Ming dan adik-adik sudah pulang dari sekolah. Selain itu, bertepatan dengan jam berangkat sang ayah menuju tempat kerja di kawasan Ancol.

Setelah berjalan selama satu setengah sampai dua jam, sang ayah pun naik angkot menuju tempat kerja. Kemudian, ibu dan enam anak itu pun kembali menuju rumah. Sepanjang jalan pergi pulang itulah, mereka memunguti gelas dan botol mineral bekas.

Berapa banyak hasil yang bisa dipungut?

Nggak tentu. Kadang-kadang dapat 3 kilo. Kadang-kadang, nggak nyampe sekilo. Kalau cuaca hujan bisa lebih parah. Tapi, rata-rata per hari sekitar 2 kiloan.

Kalau dirupiahkan?

Sekilo harganya 5 ribu. Jadi, per hari kami dapat sekitar 10 ribu rupiah.

Apa segitu cukup buat 9 orang per hari?

Ya dicukup-cukupin. Alhamdulillah, kan ada tambahan dari penghasilan ayah. Walau tidak menentu, tapi lumayan buat keperluan hidup.

***

Ming Ming menjelaskan bahwa uang yang mereka dapatkan per hari diprioritaskan buat makan adik-adik dan biaya sekolah mereka. Sementara Ming Ming sendiri sudah terbiasa hanya makan sekali sehari. Terutama di malam hari.

Selain itu, mereka tidak dibingungkan dengan persoalan kontrak rumah. Karena selama ini mereka tinggal di lahan yang pemiliknya masih teman ayah Ming Ming. Di tempat itulah, mereka mendirikan gubuk sederhana yang terbuat dari barang-barang bekas yang ada di sekitar.

Berapa hari sekali, pengepul datang ke rumah Ming Ming untuk menimbang dan membayar hasil pungutan mereka.

Kalau lagi beruntung, mereka bisa dapat gelas dan botol air mineral bekas di tempat pesta pernikahan atau sunatan. Sayangnya, mereka harus menunggu acara selesai. Menunggu acara pesta itu biasanya antara jam 9 malam sampai jam 2 pagi. Selama 5 jam itu, Ming Ming sebagai anak sulung, ibu dan dua adiknya berkantuk-kantuk di tengah keramaian dan hiruk pikuk pesta.

Kalau di hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha, keluarga pemulung ini juga punya kebiasaan yang berbeda dengan keluarga lain. Mereka tidak berkeliling kampung, berwisata, dan silaturahim ke handai taulan. Mereka justru memperpanjang rute memulung, karena biasanya di hari raya itu, barang-barang yang mereka cari tersedia lebih banyak dari hari-hari biasa.

Ming Ming tidak malu jadi pemulung?

Awalnya berat sekali. Apalagi jalan yang kami lalui biasa dilalui teman-teman sekolah saya di SMU N 1 Rumpin. Tapi, karena tekad untuk bisa membiayai sekolah dan cinta saya dengan adik-adik, saya jadi biasa. Nggak malu lagi.

Dari mana Ming Ming belajar Islam?

Sejak di SMU. Waktu itu, saya ikut rohis. Di rohis itulah, saya belajar Islam lewat mentoring seminggu sekali yang diadakan sekolah.

Ketika masuk kuliah, saya ikut rohis. Alhamdulillah, di situlah saya bisa terus belajar Islam.

Orang tua tidak masalah kalau Ming Ming memakai busana muslimah?

Alhamdulillah, nggak. Mereka welcome saja. Bahkan sekarang, lima adik perempuan saya juga sudah pakai jilbab.

***

Walau sudah mengenakan busana muslimah dengan jilbab yang lumayan panjang, Ming Ming dan adik-adik tidak merasa risih untuk tetap menjadi pemulung. Mereka biasa membawa karung, memunguti gelas dan botol air mineral bekas, juga kardus. Bahkan, Ming Ming pun sudah terbiasa menumpang truk. Walaupun, ia harus naik di belakang.

Ming Ming kuliah di mana?

Di Universitas Pamulang, Fakultas Ekonomi, Jurusan Akuntansi S1.

Maaf, apa cukup pendapatan Ming Ming untuk biaya kuliah?

Jelas nggak. Tapi, buat saya, kemiskinan itu ujian dari Allah supaya kita bisa sabar dan istiqamah. Dengan tekad itu, saya yakin bisa terus kuliah.

Walaupun, di semester pertama, saya nyaris keluar. Karena nggak punya uang buat biaya satu semester yang jumlahnya satu juta lebih. Alhamdulillah, berkat pertolongan Allah semuanya bisa terbayar.

***

Di awal-awal kuliah, muslimah kelahiran tahun 90 ini memang benar-benar melakukan hal yang bisa dianggap impossible. Tanpa uang memadai, ia bertekad kuat bisa masuk kuliah.

Ketika berangkat kuliah, sang ibu hanya memberikan ongkos ke Ming Ming secukupnya. Artinya, cuma ala kadarnya. Setelah dihitung-hitung, ongkos hanya cukup untuk pergi saja. Itu pun ada satu angkot yang tidak masuk hitungan alias harus jalan kaki. Sementara pulang, ia harus memutar otak supaya bisa sampai ke rumah. Dan itu ia lakukan setiap hari.

Sebagai gambaran, jarak antara kampus dan rumah harus ditempuh Ming Ming dengan naik empat kali angkot. Setiap angkot rata-rata menarik tarif untuk jarak yang ditempuh Ming Ming sekitar 3 ribu rupiah. Kecuali satu angkot di antara empat angkot itu yang menarik tarif 5 ribu rupiah. Karena jarak tempuhnya memang maksimal. Jadi, yang mesti disiapkan Ming Ming untuk sekali naik sekitar 14 ribu rupiah.

Di antara trik Ming Ming adalah ia pulang dari kuliah dengan berjalan kaki sejauh yang ia kuat. Sambil berjalan pulang itulah, Ming Ming mengeluarkan karung yang sudah ia siapkan. Sepanjang jalan dari Pamulang menuju Serpong, ia melepas status kemahasiswaannya dan kembali menjadi pemulung.

Jadi, jangankan kebayang untuk jajan, makan siang, dan nongkrong seperti mahasiswa kebanyakan; bisa sampai ke rumah saja bingungnya bukan main.

Sekarang apa Ming Ming masih pulang pergi dari kampus ke rumah dan menjadi pemulung sepulang kuliah?

Saat ini, alhamdulillah, saya dan teman-teman UKM Muslim (Unit Kegiatan Mahasiswa Muslim) sudah membuat unit bisnis. Di antaranya, toko muslim. Dan saya dipercayakan teman-teman sebagai penjaga toko.

Seminggu sekali saya baru pulang. Kalau dihitung-hitung, penghasilannya hampir sama.

Jadi Ming Ming tidak jadi pemulung lagi?

Tetap jadi pemulung. Kalau saya pulang ke rumah, saya tetap memanfaatkan perjalanan pulang dengan mencari barang bekas. Bahkan, saya ingin sekali mengembangkan bisnis pemulung keluarga menjadi tingkatan yang lebih tinggi. Yaitu, menjadi bisnis daur ulang. Dan ini memang butuh modal lumayan besar.

Cita-cita Ming Ming?

Saya ingin menjadi da'i di jalan Allah. Dalam artian, dakwah yang lebih luas. Bukan hanya ngisi ceramah, tapi ingin mengembangkan potensi yang saya punya untuk berjuang di jalan Allah.

Sabtu, 17 Januari 2009

Kisah Nabi : Muhammad SAW

|0 komentar
Dalam Bukhari dan Muslim, juga dalam kitab2 hadits yang terkenal lainnya, diriwayatkan bahwa sebelum Rasulullah (saw) hijrah, berkumpullah tokoh2 kafir Quraiy, seperti Abu Jahal, Walid bin Mughirah dan Al ‘Ash bin Qail.

Mereka meminta kepada nabi Muhammad (saw) untuk membelah bulan. Kata mereka, “Seandainya kamu benar2 seorang nabi, maka belahlah bulan menjadi dua.”
Rasulullah (saw) berkata kepada mereka, “Apakah kalian akan masuk Islam jika aku sanggup melakukannya?”

Mereka menjawab, “Ya.” Lalu Rasulullah (saw) berdoa kepada Allah agar bulan terbelah menjadi dua. Rasulullah (saw) memberi isyarat dengan jarinya, maka bulanpun terbelah menjadi dua. Selanjutnya sambil menyebut nama setiap orang kafir yang hadir, Rasulullah (saw) berkata, “Hai Fulan, bersaksilah kamu. Hai Fulan, bersaksilah kamu.”

Demikian jauh jarak belahan bulan itu sehingga gunung Hira nampak berada diantara keduanya. Akan tetapi orang2 kafir yang hadir berkata, “Ini sihir!” padahal semua orang yang hadir menyaksikan pembelahan bulan tersebut dengan seksama.

Atas peristiwa ini Allah (swt) menurunkan ayat Al Qur’an: ” Telah dekat saat itu (datangnya kiamat) dan bulan telah terbelah. Dan jika orang2 (kafir) menyaksikan suatu tanda (mukjizat), mereka mengingkarinya dan mengatakan bahwa itu adalah sihir.” (QS Al Qomar 54:1-2)
Subhanallah. Subhan ibn Abdullah Laem Chabang, 09/02/2005 . Telah Dekat Kiamat, Bulan Telah Terbelah Allah berfirman: “Sungguh telah dekat hari kiamat, dan bulan pun telah terbelah.” (Q.S. Al-Qamar: 1)


Apakah kalian akan membenarkan ayat Al-Qur’an ini yang menyebabkan masuk Islamnya pimpinan Hizb Islami Inggris? Di bawah ini adalah kisahnya. Dalam temu wicara di televisi bersama pakar Geologi Muslim, Prof.Dr.Zaghlul Al-Najar, salah seorang warga Inggris mengajukan pertanyaan kepadanya, apakah ayat dari surat Al-Qamar di atas memiliki kandungan mukjizat secara ilmiah? Maka Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar menjawabnya sebagai berikut:
Tentang ayat ini, saya akan menceritakan sebuah kisah. Beberapa waktu lalu, saya mempresentasikan hal itu di University Cardif, Inggris bagian Barat. Para peserta yang hadir ber-macam2, ada yang muslim dan ada juga yang bukan muslim. Salah satu tema diskusi waktu itu adalah seputar mukjizat ilmiah dari Al-Qur’an.

Salah seorang pemuda yang beragama muslim pun berdiri dan bertanya, ” Wahai Tuan, apakah menurut anda ayat yang berbunyi “Telah dekat hari qiamat dan bulan pun telah terbelah” mengandung mukjizat secara ilmiah?
Maka saya menjawabnya: Tidak, sebab kehebatan ilmiah diterangkan oleh ilmu pengetahuan, sedangkan mukjizat tidak bisa diterangkan ilmu pengetahuan, sebab ia tidak bisa menjangkaunya. Dan tentang terbelahnya bulan, maka hal itu adalah mukjizat yang terjadi pada masa Rasul terakhir Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam, sebagai pembenaran atas kenabian dan kerasulannya, sebagaimana nabi2 sebelumnya.

Dan mukjizat yang kelihatan, maka itu disaksikan dan dibenarkan oleh setiap orang yang melihatnya. Andai hal itu tidak termaktub di dalam kitab Allah dan hadits2 Rasulullah, maka tentulah kami para muslimin di zaman ini tidak akan mengimani hal itu. Akan tetapi hal itu memang benar termaktub di dalam Al-Qur’an dan hadits2 Rasulullah shallallahu alaihi wassalam.
Dan memang Allah ta’alaa benar2 maha berkuasa atas segala sesuatu.

Maka Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar pun mengutip sebuah kisah Rasulullah membelah bulan. Kisah itu adalah sebelum hijrah dari Mekah Mukarramah ke Madinah Munawarah. Orang2 musyrik berkata, “Wahai Muhammad, kalau engkau benar Nabi dan Rasul, coba tunjukkan kepada kami satu kehebatan yang bisa membuktikan kenabian dan kerasulanmu (dengan nada mengejek dan meng-olok2)?” Rasulullah bertanya, “Apa yang kalian inginkan?” Mereka menjawab, “Coba belah bulan…” Rasulullah pun berdiri dan terdiam, berdoa kepada Allah agar menolongnya. Lalu Allah memberitahu Muhammad SAW agar mengarahkan telunjuknya ke bulan. Rasulullah pun mengarahkan telunjuknya ke bulan dan terbelahlah bulan itu dengan se-benar2-nya. Serta-merta orang2 musyrik pun berujar, “Muhammad, engkau benar2 telah menyihir kami!”

Akan tetapi para ahli mengatakan bahwa sihir, memang benar bisa saja “menyihir” orang yang ada disampingnya akan tetapi tidak bisa menyihir orang yang tidak ada di tempat itu. Lalu mereka pun menunggu orang2 yang akan pulang dari perjalanan.

Orang2 Quraisy pun bergegas menuju keluar batas kota Mekkah menanti orang yang baru pulang dari perjalanan. Dan ketika datang rombongan yang pertama kali dari perjalanan menuju Mekkah, orang2 musyrik pun bertanya, “Apakah kalian melihat sesuatu yang aneh dengan bulan?” Mereka menjawab, “Ya, benar. Pada suatu malam yang lalu kami melihat bulan terbelah menjadi dua dan saling menjauh masing2-nya kemudian bersatu kembali…”
Maka sebagian mereka pun beriman, dan sebagian lainnya lagi tetap kafir ingkar). Oleh karena itu, Allah menurunkan ayat-Nya: “Sungguh, telah dekat hari qiamat, dan telah terbelah bulan, dan ketika melihat tanda2 kebesaran Kami, merekapun ingkar lagi berpaling seraya berkata, “Ini adalah sihir yang terus-menerus”, dan mereka mendustakannya, bahkan mengikuti hawa nafsu mereka. Dan setiap urusan benar-benar telah tetap… (sampai akhir surat Al-Qamar).

Ini adalah kisah nyata, demikian kata Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar.
Dan setelah selesainya Prof. Dr. Zaghlul menyampaikan hadits nabi tersebut, berdiri seorang muslim warga Inggris dan memperkenalkan diri seraya berkata, “Aku Daud Musa Pitkhok, ketua Al-Hizb Al-Islamy Inggris. Wahai Tuan, bolehkah aku menambahkan?” Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar menjawab:”Dipersilahkan dengan senang hati.”

Daud Musa Pitkhok berkata, “Aku pernah meneliti agama2 (sebelum menjadi muslim), maka salah seorang mahasiswa muslim menunjukiku sebuah terjemah makna2 Al-Qur’an yang mulia. Maka, aku pun berterima kasih kepadanya dan aku membawa terjemah itu pulang ke rumah. Dan ketika aku mem-buka2 terjemahan Al-Qur’an itu di rumah, maka surat yang pertama aku buka ternyata Al-Qamar. Dan aku pun membacanya: “Telah dekat hari qiamat dan bulan pun telah terbelah…”

Aku bergumam: Apakah kalimat ini masuk akal? Apakah mungkin bulan bisa terbelah kemudian bersatu kembali? Andai benar, kekuatan macam apa yang bisa melakukan hal itu? Maka, aku pun berhenti membaca ayat2 selanjutnya dan aku menyibukkan diri dengan urusan kehidupan se-hari2. Akan tetapi Allah maha tahu tentang tingkat keikhlasam hamba-Nya dalam pencarian kebenaran.

Suatu hari aku duduk di depan televisi Inggris. Saat itu ada sebuah diskusi antara seorang presenter Inggris dan 3 orang pakar ruang angkasa AS. Ketiga pakar antariksa tersebut bercerita tentang dana yang begitu besar dalam rangka melakukan perjalanan ke antariksa, padahal saat yang sama dunia sedang mengalami masalah kelaparan, kemiskinan, sakit dan perselisihan.
Presenter berkata, “Andaikan dana itu digunakan untuk memakmurkan bumi, tentulah lebih banyak gunanya.” Ketiga pakar itu pun membela diri dengan proyek antariksanya dan berkata, “Proyek antariksa ini akan membawa dampak yang sangat positif pada banyak segmen kehidupan manusia, baik pada segi kedokteran, industri ataupun pertanian. Jadi pendanaan tersebut
bukanlah hal yang sia2, akan tetapi hal itu dalam rangka pengembangan kehidupan manusia.”

Dalam diskusi tersebut dibahas tentang turunnya astronot hingga menjejakkan kakinya di bulan, dimana perjalanan antariksa ke bulan tersebut telah menghabiskan dana tidak kurang dari 100 juta dollar. Mendengar hal itu, presenter terperangah kaget dan berkata, “Kebodohan macam apalagi ini, dana yang begitu besar dibuang oleh AS hanya untuk bisa mendarat di bulan?
” Mereka pun menjawab, “Tidak! Tujuannya tidak semata menancapkan ilmu pengetahuan AS di bulan, akan tetapi kami mempelajari kandungan yang ada di dalam bulan itu sendiri, maka kami pun telah mendapat hakikat tentang bulan itu, yang jika kita berikan dana lebih dari 100 juta dollar untuk kesenangan manusia, maka kami tidak akan memberikan dana itu kepada siapapun.”
Mendengar hal itu, presenter itu pun bertanya, “Hakikat apa yang kalian telah capai hingga demikian mahal taruhannya?” Mereka menjawab, ” Ternyata bulan pernah mengalami pembelahan di suatu hari dahulu kala, kemudian menyatu kembali! Presenter pun bertanya, “Bagaimana kalian bisa yakin akan hal itu?” Mereka menjawab, “Kami mendapati secara pasti dari batu2-an yang terpisah (katrena) terpotong di permukaan bulan sampai di dalam (perut) bulan. Kami meminta para pakar geologi untuk menelitinya, dan mereka mengatakan, “Hal ini tidak mungkin terjadi kecuali jika memang bulan pernah terbelah lalu bersatu kembali!”

Mendengar paparan itu, ketua Al-Hizb Al-Islamy Inggris mengatakan, ” Maka aku pun turun dari kursi dan berkata, ‘Mukjizat (kehebatan) benar2 telah terjadi pada diri Muhammad shallallahu alaihi wassallam 1400-an tahun yang lalu. Allah benar2 telah meng-olok2 AS untuk mengeluarkan dana yang begitu besar, hingga 100 juta dollar, hanya untuk menetapkan akan kebenaran muslimin! Agama Islam ini tidak mungkin salah… Lalu aku pun kembali membuka Mushhaf Al-Qur’an dan aku baca surat Al-Qamar.
Dan saat itu adalah awal aku menerima dan masuk Islam.”

Diterjemahkan oleh: Abu Muhammad ibn Shadiq (Sabtu, 22 Sya’ban1424H/18-10-2003M)